Semua seller pernah kena momen ini:
Ada orang DM nanya harga…
Tapi ujung-ujungnya nggak jadi beli.
Karena mereka bilang: “Toko baru ya? Aman nggak kak?”
Padahal produknya bagus, fast response, harga oke.
Tapi… akun masih 37 followers. Postingan cuma 3. Belum ada testimoni.
Masalahnya bukan produknya.
Masalahnya: trust.
Di dunia online, orang beli rasa aman dulu, baru beli barangnya.
Coba jujur sebentar.
Kalau kamu lihat dua akun jualan:
Akun A
Followers 12.300
Highlights ada “testimoni”
Story rame
Feed keliatan aktif
Akun B
Followers 42
Bio baru dibuat
Feed sepi
Secara logika, kamu lebih percaya mana?
Konsumen sekarang sudah “pintar tapi malas ngecek dalam”.
Mereka nggak scroll seluruh katalog. Mereka cuma scanning cepat → lihat angka → ambil keputusan awal: aman atau nggak.
Itu yang disebut social proof (bukti sosial).
Dan followers adalah social proof paling kelihatan.
Followers yang kelihatan stabil bikin toko kamu kelihatan:
Udah pernah ada pembeli sebelumnya
Orang mikir, “Oh ini toko bukan boongan, udah ada yang beli pasti.”
Lebih profesional
Akun rapi + angka lumayan → keliatan kayak brand, bukan akun dadakan.
Lebih aman buat transfer uang
Ini penting banget buat produk yang harus bayar dulu.
Lebih enak buat naik harga
Kamu bisa jual sedikit lebih mahal tapi tetap dipercaya, karena value-nya bukan cuma barangnya, tapi rasa aman belinya.
Bahkan banyak pembeli “bodo amat sama kualitas foto”, yang penting “tokonya keliatan rame”.
Ini kejadian yang sering banget:
Kalau akun kamu keliatan kecil, banyak calon buyer cuma nanya-nanya panjang lebar tapi nggak transfer.
Kalau akun keliatan besar, buyer sering langsung “OK kak saya ambil 2 ya, bisa kirim hari ini?”
Kenapa gitu?
Karena makin besar kamu kelihatan, makin kecil rasa takut mereka ditipu. Jadi friction buat bayar itu turun.
Followers bukan buat gaya-gayaan.
Followers itu buat nurunin rasa curiga calon buyer.
Ada dua jalur utama: organik dan boost.
Ini pelan tapi aman buat jangka panjang.
Konten real produk kamu dipakai orang (UGC)
Upload real customer video unboxing, review, atau testimoni. Orang suka lihat barang dipakai orang biasa, bukan foto katalog terlalu “perfect”.
Aktif di Story
Jualan di Story itu feels lebih manusiawi daripada feed. Story yang aktif bikin akun keliatan hidup.
Giveaway kecil tapi rutin
Contoh: “Hadiah saldo e-wallet 50K buat 2 orang yang repost story ini.”
Tujuan giveaway kecil bukan viral. Tujuan utamanya: akun kamu kelihatan ada interaksi.
Kolab / titip promo ke akun lain
Minta temenmu yang followersnya lebih banyak buat mention nama toko kamu. Ini cara organik yang sering dipakai UMKM kecil.
Ini bagus buat dapet followers yang bener-bener tertarik sama produkmu.
Ini dipakai banyak seller supaya profil nggak keliatan kosong.
Konsepnya:
Kamu order paket followers sesuai target (misal followers Indonesia).
Naiknya pelan tapi stabil, bukan lompat 0 → 50.000 dadakan.
Hasilnya: profil kamu kelihatan “sudah ada audience”.
Fungsinya bukan “biar jadi selebgram”.
Fungsinya: ngasih first impression aman buat pembeli baru.
Buyer baru ngelihat, “Oh followersnya udah ribuan, berarti bukan toko baru kemarin sore.”
Dan percakapan langsung jadi lebih gampang:
dari “ini aman kah kak?” → jadi “ready warna hitam kak?”
Ini tergantung niche, tapi rata-rata:
Toko barang murah (aksesoris, fashion, makanan ringan):
1.000 – 3.000 followers aja udah keliatan “toko jalan”.
Produk high trust (kecantikan, skincare, elektronik, hijab brand):
5.000+ followers bikin kamu kelihatan lebih established.
Brand personal (influencer jual jasa / kelas / coaching):
10.000+ followers bikin value kamu bisa langsung naik, karena kesannya “expert / terkenal”.
Catatan penting:
Naik followers itu jangan barbar. Naiknya harus bertahap, supaya kelihatan natural.
Pembeli online itu visual, cepat menilai, gampang curiga.
Followers tinggi bikin kamu keliatan aman, terpercaya, profesional.
Akhirnya ujungnya ke uang: lebih gampang closing, lebih gampang repeat order, lebih gampang naikin harga.
Makanya banyak seller baru sekarang nggak mau mulai dari angka nol. Mereka gas dulu followersnya di awal biar profil keliatan proper, lalu lanjut lanjutkan dengan konten asli, testimoni real, dan pelayanan bagus.
Followers itu bukan satu-satunya faktor.
Tapi itu tiket masuk ke percakapan yang serius.
1. Apa pembeli bener-bener ngecek followers sebelum beli?
Iya. Banyak orang bahkan ngecek followers dulu sebelum nanya ongkir.
2. Jadi harus beli followers dulu baru mulai jualan?
Nggak wajib. Tapi jujur aja: mulai dengan profil “udah keliatan rame” itu bikin start kamu jauh lebih gampang.
3. Followersnya harus orang Indonesia?
Kalau kamu jual buat market lokal (Indonesia), lebih bagus akun kamu keliatan lokal. Itu bikin trust lebih tinggi.
4. Aman nggak buat brand jangka panjang?
Aman selama naikin followersnya bertahap dan setelah itu kamu lanjut isi konten asli, testimoni asli, bukti chat customer asli.
https://smm-matrix.bugfinder.app/
Install Progressive Web Application
This site has app functionality. Install it on your device for extensive experience and easy access.